Ekonomi
Beranda » Mengamati Dapur Gerabah Kapal: Bertahan Menjaga Tradisi Pengabenan Bali Berkat Modal KUR BRI

Mengamati Dapur Gerabah Kapal: Bertahan Menjaga Tradisi Pengabenan Bali Berkat Modal KUR BRI

Usaha gerabah warisan leluhur sejak tahun 1970-an di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Badung, Bali milik Nyoman Subarana terus bertahan memenuhi kebutuhan upacara keagamaan dan pengabenan Bali dengan dukungan pembiayaan KUR BRI. (ist)

Badung – Di tengah gempuran perabot plastik dan logam modern, dentang perajin gerabah tanah liat di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, tak kunjung padam. Usaha perajin lokal yang telah mengakar sejak 1970-an ini terus memproduksi peralatan sarana upakara adat keagamaan Hindu Bali yang tak tergantikan zaman.

Nyoman Subarana, generasi penerus perajin gerabah Desa Kapal, menceritakan bahwa keahlian membentuk tanah liat tersebut merupakan warisan turun-temurun dari orang tuanya. Produk-produk seperti payuk pere, coblong, dulang, hingga carat tetap dicari masyarakat untuk melengkapi ritual odalan hingga upacara pengabenan.

“Usaha ini bukan sekadar sumber mata pencaharian untuk membesarkan keluarga dan membiayai sekolah anak, tetapi juga tanggung jawab moral menjaga warisan leluhur,” kata Subarana, Kamis (13/8).

Subarana mengungkapkan, permintaan paling melonjak terjadi saat musim upacara pengabenan massal atau ritual besar. Dalam satu siklus pesanan dari pelanggan tetap setiap dua hingga tiga minggu, ia sanggup mengolah dan memproduksi hingga 4.000 buah gerabah beragam jenis.

Meski pasarnya relatif stabil di seluruh pelosok Bali, tantangan utama justru terletak pada pasokan bahan baku tanah liat dan proses pengolahan yang masih sangat bergantung pada cuaca. Untuk sekali pembelian bahan baku tanah liat berkualitas dari berbagai daerah di Bali, ia memerlukan modal awal sekitar Rp1 juta.

Kajati Bali Lantik Tiga Kajari Baru

Proses pembuatan masih mengandalkan teknik pembakaran tradisional menggunakan kayu bakar dan jerami, dengan mengandalkan tenaga kerja delapan orang yang seluruhnya merupakan anggota keluarga besar.

Untuk memperkuat kapasitas produksi saat lonjakan pesanan tiba, Subarana memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp100 juta dengan tenor lima tahun.

“Suntikan modal KUR ini sangat krusial, terutama saat pesanan melimpah. Kami bisa membeli stok bahan baku tanah liat lebih awal sehingga proses cetak dan bakar tidak terhambat,” jelas Subarana.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya menegaskan, dukungan pembiayaan bagi UMKM seperti perajin gerabah Desa Kapal bertujuan menjaga fungsi ganda sektor usaha mikro, menjaga ketahanan ekonomi keluarga sekaligus merawat kearifan lokal.

“Pelaku UMKM seperti Pak Nyoman Subarana tidak hanya menggerakkan roda ekonomi lokal dan menyerap tenaga kerja, tetapi juga menjadi benteng keberlanjutan tradisi Bali. Melalui akses KUR, BRI memastikan kapasitas produksi mereka tetap terjaga tanpa kehilangan akar budayanya,” ujar Hery. (Ar/CB.1)

Truk Dump Patah As Roda Lalu Terguling dan Timpa Mobil Innova di Uluwatu

 

Bagikan