Denpasar – Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) II bersama Kodam IX/Udayana menggelar latihan aplikasi lapangan penanggulangan bencana alam gempa bumi dan tsunami di kawasan Pantai Merta Sari, Denpasar, Bali, Sabtu, (8/8).
Latihan Kesiapsiagaan Operasional (LKO) hari keenam ini ditujukan untuk menguji kesiapan personel, efektivitas komando pengendalian, serta interoperabilitas lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana berskala besar di wilayah Bali.
Pangkogabwilhan II Marsekal Madya TNI Muzafar menyatakan, Bali dipilih sebagai lokasi LKO karena berada pada jalur potensi ancaman gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas tektonik di Indonesia bagian tengah. Selain itu, status Bali sebagai destinasi pariwisata internasional menuntut adanya sistem tanggap darurat yang cepat dan terpadu.
“Latihan ini bertujuan menguji kesiapan prosedur, komando dan pengendalian, serta sinergi antarinstansi. Kami ingin memastikan seluruh unsur memiliki kesamaan persepsi agar mampu memberikan respons optimal demi keselamatan masyarakat,” ujar Muzafar usai meninjau latihan..
Latihan gabungan ini melibatkan tiga matra TNI (AD, AL, AU) di bawah Kogabwilhan II serta bersinergi dengan BNPB, BPBD, Basarnas, Polri, pemerintah daerah, dan unsur pelayanan kesehatan.
Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto selaku Pangkogasgabpad mendampingi jalannya latihan bersama jajaran pejabat Mabes TNI dan Pemerintah Provinsi Bali.
Sementara itu, Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution menegaskan bahwa keterlibatan jajarannya merupakan upaya memantapkan integrasi kekuatan militer dan sipil saat kondisi darurat. “Prinsipnya, kesiapsiagaan yang dibangun bermuara pada perlindungan dan pertolongan cepat kepada masyarakat,” kata Amrizal.
Rangkaian LKO Kogabwilhan II ini juga diisi dengan aksi kemanusiaan. Petugas membagikan 1.200 paket sembako kepada warga di sekitar area latihan serta menggelar bakti kesehatan pengobatan gratis di Lapangan Puputan Niti Mandala Renon, yang disimulasikan sebagai lokasi pengungsian. (An/CB.3)




