Gaya Hidup
Beranda » Widminarko dan Asa Pewarta yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Widminarko dan Asa Pewarta yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Widminarko (tangkap layar dari Facebook)

Denpasar – Langkah yang tidak lagi tegap di usianya yang telah menginjak 84 tahun, ingatan Widminarko tentang dunia pers masih begitu tajam dan bernas. Senyum tipis mengembang dari wajah wartawan senior tiga zaman ini saat ia mengenang lika-liku perjalanan tinta dan kertas yang menghidupi separuh lebih usianya.

Lebih dari 56 tahun mengabdi di dunia jurnalistik, Widminarko bukan sekadar saksi sejarah, melainkan pelaku aktif yang ikut bertumbuh dengan pers di pulau Dewata.

Siang itu saat acara Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI 2026, Di Gedung PWI Bali Kamis, (20/8) mengenakan kemeja batik berwarna biru cenderung gelap, tatapannya masih tajam.

Lahir di Dusun Sidotentrem, Banyuwangi, pada 8 April 1942 dari pasangan Dulkiram dan Marfuahtun, Widminarko muda menautkan takdir kehidupannya dengan Pulau Dewata sejak merantau untuk kuliah di Fakultas Sastra Universitas Udayana jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 1962.

Berbekal minat mendalam pada seni, sastra, dan musik serta torehan prestasi sebagai juara menulis puisi pada tahun yang sama, dunia kata-kata menjadi ruang pengabdian yang dipilihnya secara utuh.

Pangdam Udayana Tinjau Pengungsian Gempa di Manggarai

Karir pers Widminarko dimulai pada tahun 1965 di koran Suara Indonesia. Surat kabar legendaris yang kelak bertransformasi menjadi Bali Post. Sejak saat itu, dinamika pers di Bali menjadi bagian tak terpisahkan dari napas kehidupannya. Ia dipercaya menjabat sebagai Penanggung Jawab Suluh Marhaen Edisi Bali pada periode 1968 – 1971.

Sejarah pers Indonesia mencatat jejak panjang peralihan nama dan format media yang turut melibatkannya. Dari Suluh Marhaen tahun 1971, media tersebut kemudian melahirkan nama besar Bali Post di Bali. Sementara di Jakarta cikal bakalnya bertransformasi menjadi Berita Nasional (Bernas). Hubungan dinamis antara pers dan kekuatan sosial politik era itu juga tercermin dari keterkaitan Harian Angkatan Bersenjata dalam sejarah awal berdirinya Harian Nusa Bali pada 1966.

Puncak manajerial dan redaksionalnya diuji saat ia memegang posisi Redaktur Pelaksana (1971-1983) dan Wakil Pemimpin Redaksi Bali Post (1971-2000), disusul jabatan Direktur PT Bali Post bidang Pengembangan Produksi dan SDM (1991-2000).

Bahkan, setelah memasuki masa pensiun dikaryakan hingga pensiun penuh pada tahun 2021, taji kewartawanannya tak pernah surut. Ia dipercaya menjadi Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi Koran Tokoh dan Majalah Tokoh.

Di tengah godaan arus politik yang acap kali memikat awak media, Widminarko memegang teguh benteng independensi. Prinsip ini ia tegaskan dengan wanti-wanti yang tajam namun rasional. Media yang terkontaminasi kepentingan politik praktis pimpinannya akan kehilangan marwah keberlanjutannya.

Membedah Kode Etik, Perilaku, dan Tantangan Profesionalisme Wartawan pada OKK PWI Bali 2026

Wartawan jangan berpolitik praktis. apalagi pimpinan redaksinya jadi pimpinan partai. Pasti tidak akan berkembang itu,” tegas Widminarko. Menurutnya, media yang ditarik ke pusaran partai politik tidak akan bisa tumbuh sehat, kecuali punya logistik melimpah.”

Menurut Widminarko, mencampuradukkan media dengan ambisi politik praktis adalah jalan pintas yang merusak bisnis sekaligus idealisme pers.

Tentu, idealisme tanpa daya tahan finansial hanya akan menjadi uap belaka. Widminarko membagikan pengalamannya saat dihadapkan pada tantangan nyata: bagaimana menyinergikan idealisme pers dengan roda bisnis perusahaan media.

Saat diberi mandat mengelola perusahaan, Widminarko menyadari realitas baru bahwa wartawan juga harus bisa memahami fungsi pemasaran (marketing). Namun, apakah tuntutan komersial akan merusak idealisme berita?

Apakah akan mempengaruhi idealisme? Tidak, saya kontrol secara ketat,” jawabnya mantap.

Dinas PUPR Tabanan Gelontorkan Rp2 Miliar untuk Tujuh Paket Infrastruktur Air

Di Majalah Tokoh, ia membuktikan bagaimana artikel berbayar (advertorial) menjadi penopang pendapatan yang sangat lumayan, terutama saat momen-momen tahun politik. Uniknya, kerap kali orang atau pihak yang ingin memasang iklan tidak memiliki keterampilan menulis. Di sinilah wartawan mengambil peran menjembatani. Menuliskannya secara profesional, menjaga keterbacaan, dan memastikan kualitas penerbitan.

Prinsip praktisnya sederhana namun beretika.Yang penting bayar,” ujarnya. Namun, hasil tulisannya tetap memenuhi kaidah jurnalistik yang patut dan layak dibaca publik.

Menurutnya, wartawan harus selalu bisa mempertahankan idealismenya meski bekerja di area batas antara redaksi dan komersial. “Prinsip itu yang saya pegang sampai sekarang,” ujarnya.

Memasuki usia 84 tahun, gairah Widminarko pada dunia literasi tak pernah padam. Di sela-sela waktu luangnya, ia masih aktif menyapa era digital dengan senang menulis dan rajin membuka Facebook. Keterampilannya mengolah kalimat yang terasah selama lebih dari setengah abad membuat tulisan-tulisannya tetap memikat dan penuh bobot pemikiran.

“Banyak cerita atau pengalaman yang saya tuliskan di Facebook,” ujarnya.

Dedikasinya yang tak tergoyahkan diapresiasi luas oleh insan pers. Selain dipercaya memimpin PWI Bali selama dua periode berturut-turut (1983-1987 dan 1987-1991), ia juga dianugerahi penghargaan Anggota PWI Seumur Hidup, Wartawan Senior PWI Pusat, serta Tokoh Masyarakat Berprestasi K. Nadha Nugraha pada tahun 2007. Perjalanan hidup dan pemikirannya pun terabadikan dalam karya tulisnya, termasuk buku Widminarko Mandiri Belajar Sendiri (2013).

Widminarko adalah potret utuh seorang insan pers yang membuktikan bahwa zaman boleh berubah, media boleh bertransformasi, namun roh pers yakni idealisme, integritas, dan kecintaan pada kata-kata adalah keabadian yang harus terus dirawat oleh setiap generasi pewarta.

“Menjadi wartawan sukses punya versinya masing-masing,” ujarnya. (Ar/CB.1)

Bagikan