Badung – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai makin mengukuhkan posisinya sebagai gerbang utama pelesiran turis asal Australia. Jalur udara antara Pulau Dewata dan Negeri Kanguru itu kian padat menyusul diaktifkannya kembali rute langsung penerbangan perdana (inaugural flight) dari Ibu Kota Australia, Canberra, menuju Denpasar.
Pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai Virgin Australia dengan nomor penerbangan VA127 mendarat mulus di landasan pacu Ngurah Rai pada Senin malam, 22 Juni 2026, Pukul 21.02 WITA.
Pada penerbangan perdananya ini, burung besi tersebut memboyong 165 penumpang dari Canberra. Tak berselang lama, tepat Pukul 22.39 WITA, pesawat yang sama bertolak kembali sebagai VA128 dengan mengangkut 68 penumpang menuju ibu kota Australia tersebut.
Reaktivasi rute Canberra–Denpasar pergi-pulang (pp) ini dijadwalkan terbang tiga kali sepekan setiap Senin, Rabu, dan Sabtu selama periode summer season 2026.
General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Nugroho Jati menyebut, kembalinya rute Canberra ini sebagai sinyalemen kuat bahwa daya pikat Bali di pasar Australia belum pudar, bahkan terus menebal. “Hal ini menunjukkan kuatnya daya tarik Bali di pasar wisatawan asal Australia,” ujar Nugroho, Rabu, 24 Juni 2026.
Masuknya Canberra otomatis memperluas cengkeraman jaringan penerbangan dari benua selatan tersebut. Australia kini menobatkan diri sebagai negara dengan jaringan rute direct flight terbanyak yang terhubung langsung dengan Bali, yakni mencapai 12 rute.
Sebelum Canberra kembali masuk papan jadwal, Bandara Ngurah Rai telah melayani penerbangan langsung dari belasan kota sekunder dan utama di Australia, meliputi Perth, Melbourne, Sydney, Brisbane, Adelaide, Gold Coast, Darwin, Cairns, Newcastle, Avalon, hingga Sunshine Coast.
Secara makro, kehadiran penerbangan dari Canberra ini menggenapkan jumlah rute internasional yang dilayani Bandara Ngurah Rai menjadi 41 rute, yang disokong oleh penetrasi 43 maskapai penerbangan global.
Keintiman hubungan udara ini berbanding lurus dengan angka kunjungan lapangan. Berdasarkan data otoritas bandara, Australia kokoh bertengger di urutan pertama sebagai penyumbang pelancong mancanegara terbanyak ke Bali. Sepanjang lima bulan pertama tahun ini hingga Mei 2026 tak kurang dari 664 ribu warga Australia telah menyeberang ke Bali.
Nugroho Jati berharap, pemulihan konektivitas udara yang kian erat ini tidak sekadar berputar pada angka statistik di terminal kedatangan, melainkan mampu menggelindingkan efek domino (multiplier effect) bagi pemulihan ekonomi lokal dan sektor pendukung pariwisata di Bali yang mengandalkan devisa dari para pelancong lintas negara tersebut. (Ar/CB.1)

