Budaya
Beranda » Telah Berdiri 43 Tahun, Pura MGPSSR Luwu Timur Gelar Karya Agung Ngenteg Linggih

Telah Berdiri 43 Tahun, Pura MGPSSR Luwu Timur Gelar Karya Agung Ngenteg Linggih

Karya Agung yang meliputi Memungkah, Rsigana, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, lan Mekebat Daun di Pura MGPSSR yang berlokasi di Desa Karambua, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. (ist)

Sulawesi – Pengempon Pura Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) yang berlokasi di Desa Karambua, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menggelar rangkaian upacara besar (Karya Agung) yang meliputi Memungkah, Rsi Gana, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, lan Mekebat Daun.

​Puncak rangkaian upacara ini menandai perjalanan panjang pura yang telah berdiri selama 43 tahun sejak pertama kali dibangun pada tahun 1983.

​Ketua Pura MGPSSR, Made Suana, didampingi tokoh masyarakat Ketut Sumberjana, menjelaskan bahwa pelaksanaan karya agung ini merupakan hasil kesepakatan bersama seluruh pengempon.

​”Pura ini kini diempon oleh 48 Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari berbagai desa di Kabupaten Luwu Utara (Lutra) dan Luwu Timur (Lutim). Saat awal berdiri tahun 1983, pura ini hanya diempon oleh sekitar 20 KK,” ujar Made Suana di sela-sela upacara Nyenuk, Sabtu (4/4).

Karya Agung yang meliputi Memungkah, Rsigana, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, lan Mekebat Daun di Pura MGPSSR yang berlokasi di Desa Karambua, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. (ist)

​Penyelenggaraan upacara besar ini menelan biaya yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Pangdam Hadiri Upacara Pemakaman Militer Prajurit Kodam IX/Udayana yang Gugur dalam Misi Perdamaian

Dana tersebut dikumpulkan melalui iuran wajib sebesar Rp4 juta setiap kepala keluarga pengempon dan dana punia.

Made Suana menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat. “Terima kasih setulus-tulusnya kepada warga pengempon dan para donatur yang telah menyukseskan karya ini,” tambahnya.

​Ketut Sumberjana menekankan pentingnya bagi Semeton Pasek untuk tetap ingat pada asal-usul (Eling Ring Kawitan) tanpa membeda-bedakan latar belakang.

​”Sesungguhnya Pasek itu adalah satu. Yang membedakan hanyalah profesi dan tempat tinggal. Di Sulawesi Selatan, para tokoh penglingsir berkomitmen untuk terus membangun Pura MGPSSR sebagai pemersatu,” tegasnya.

​Ia juga berharap melalui upacara utama ini, persaudaraan antar-warga semakin erat. “Semoga ke depannya Semeton Pasek tetap mesikian (bersatu), Bhakti Ring Widhi, lan Eling Ring Kawitan,” harap pria yang akrab disapa Pak Polos tersebut.

Rem Blong di Puri Gading, Truk Molen Hantam Terios dan Serempet Motor

​Rangkaian panjang upacara ini telah berlangsung sejak pertengahan Maret hingga April 2026. Dimulai Nanceb lan Nunas Tirta Pemuket (18/3), Nunas Tirta Segara, Gunung, Campuhan (20/3) Ngaturang Pekolem (21/3), Ngingsah (23/3), Mulang Pedagingan lan Melaspas (28/3) Melasti lan Mendak Siwi (29/3), Mepada (30/3) Meolahan (31/3), Tawur Rsigana (1/4), Pujawali/Puncak Karya (2/4) Nganyarin lan Nglungsur Ayu (3/4), Nyenuk (4/4), dan Mekebat Daun lan Nyinep (5/4). (Ar/CB.1*)

Berita Populer

01

Resmi Diumumkan! Ini Daftar 39 Nominasi Lomba Ogoh-Ogoh Tabanan 2026 Tingkat Kecamatan.

02

Desa dan Subak Dapat 55 Persen dari Pendapatan DTW Jatiluwih, Begini Rinciannya

03

Bupati Sanjaya Pimpin Gerakan Kebersihan di Pantai Yeh Gangga Tabanan

04

Fakta Terungkap! Perumda Sanjayaning Singasana Bantah Keras Tuduhan Tunggakan Bahan Pokok oleh Pengelola SPPG

05

Rai Wahyuni Sanjaya Kukuhkan Bank Sampah Krama Istri “Gangga Ayu”, Desa Adat Yeh Gangga

Follow Us

     

Bagikan