Peristiwa
Beranda » Dinilai Jadi Komoditas Politik, Begini Respon Paslon MS Glow dan SANDI Soal Netralitas Desa Adat  

Dinilai Jadi Komoditas Politik, Begini Respon Paslon MS Glow dan SANDI Soal Netralitas Desa Adat  

Debat ketiga Paslon bupati dan wakil bupati Tabanan oleh KPU.

Tabanan – I Nyoman Mulyadi-I Nyoman Ardika (MS Glow) merasa sedih dengan hilangnya jati diri lembaga otonom yang tangguh di tingkat desa adat.

Salah satu yang menjadi penyebabnya yakni adanya bantuan hibah dan bansos yang terus diberikan namun dengan embel-embel menghilangkan netralitas hingga integritas dari desa adat itu sendiri.

“Desa adat disibukkan dengan administrasi manajerial yang diatur oleh lembaga-lembaga bentukkan pemerintah sehingga hakikat desa adat tercabut dari akarnya,” kata Ardika saat debat terbuka paslon bupati dan wakil bupati Tabanan oleh KPU pada 20 November 2024.

Dalam hal ini, I Komang Gede Sanjaya-I Made Dirga (SANDI) memberikan tanggapannya. Jika tidak ada bantuan yang diberikan bagaimana bisa menjaga desa adat itu sendiri.

“Tidak cukup desa adat untuk mengurus kebutuhan-kebutuhannya. Kalau tidak diberikan bantuan, bagaimana melestarikan,” ungkap Sanjaya.

Gubernur Koster Minta Maaf Jalur Menuju Gilimanuk Macet Parah, Ini Penjelasannya

Sanjaya sendiri mengklaim Pemerintah Kabupaten Tabanan khususnya sudah memberikan yang terbaik bagi desa adat agar dapat meringankan beban di masyarakat.

“Bayangkan kalau itu tidak terjadi, bagaimana menjaga desa adat yang sudah Adhi luwung dari jaman dahulu,” lanjut Sanjaya.

Ia pun menyinggung bantuan yang sama juga diberikan kepada Mulyadi-Ardika. “Ini menjadi pertanyaan yang sangat kontradiktif, ironis bagi kita ketika tadi mengatakan bagaimana kolerasinya dalam pelestarian budaya,” imbuhnya.

“Bagi kami hibah bansos itu penting, di sesuaikan kebutuhan desa adat, pemerataan keadilan ini penting,” Pungkas Sanjaya.

Menanggapi hal ini, Nyoman Ardika bukan mempermasalahkan bansosnya tetapi netralitas dari masyarakat desa adat.

LPSK Siapkan Perlindungan Korban, Keluarga dan Saksi, Kasus Penyiraman Air Keras

“Saya merasakan bagaimana mendapatkan bantuan dari pemerintah terhadap kami. Maka dari itu kami tidak mau dipasung. Bansos yang diberikan karena itu bagian dari pajak yang kami bayarkan kepada pemerintah itu sendiri,” jelasnya.

Ardika pun perlu adanya komunikasi ke depannya agar pemasalahan yang terjadi di bawah khususnya di desa adat dapat terselesaikan. (CB.3)

Berita Populer

01

Desa dan Subak Dapat 55 Persen dari Pendapatan DTW Jatiluwih, Begini Rinciannya

02

Bupati Sanjaya Pimpin Gerakan Kebersihan di Pantai Yeh Gangga Tabanan

03

Rai Wahyuni Sanjaya Kukuhkan Bank Sampah Krama Istri “Gangga Ayu”, Desa Adat Yeh Gangga

04

Ny. Rai Wahyuni Sanjaya melaksanakan Sosialisasi Kulkul PKK dan Posyandu serta Kunjungi Tempat Pengolahan Sampah Plastik “Bali Harmoni” di Denbantas

05

Seorang Mahasiswa Ditemukan Meninggal di Bawah Jembatan Tukad Bangkung Badung, Diduga Bunuh Diri

Follow Us

     

Bagikan