Kolom Opini
Beranda » Seragam MPLS dan Ilusi Merdeka Tubuh Remaja

Seragam MPLS dan Ilusi Merdeka Tubuh Remaja

gambar ilustrasi: Filsuf asal Prancis, Michel Foucault menatap manekin.

Ketika “pamer body” berbaju sekolah di media sosial bukan lagi bentuk kebebasan ekspresi, melainkan kepatuhan sukarela pada mesin kapitalisme algoritma.

Setiap tahunnya, musim Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selalu menyisakan riak di media sosial. Namun, belakangan ini, ada pemandangan yang tak biasa di linimasa Instagram. Bukan lagi soal kelucuan tugas-tugas aneh dari senior atau keluhan atribut kardus, melainkan maraknya konten foto anak-anak sekolah baru yang berpose menonjolkan lekuk tubuh (pamer body) dengan pernyataan siap mengikuti MPLS.

Reaksi publik riuh. Kubu konservatif meradang menuduh degradasi moral, sementara sebagian kelompok yang merasa diri mereka progresif langsung pasang badan membela atas nama “otonomi tubuh” atau hak ekspresi remaja. Namun, jika kita mau menanggalkan sejenak perdebatan moralitas usang dan bersedia membedahnya dengan sosiologi tubuh kontemporer khususnya pemikiran filsuf asal Prancis, Michel Foucault, tentang tubuh dan kekuasaan, kita akan menemukan sebuah ironi yang jauh lebih mengerikan.

Kebenaran yang pahit adalah: tindakan para remaja yang memamerkan lekuk fisik mereka sesaat sebelum pelaksanaan MPLS di media sosial sama sekali bukan wujud kebebasan. Sebaliknya, itu adalah wujud kepatuhan paling paripurna pada penguasa baru bernama algoritma.

Foucault dalam karya monumentalnya, Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1977), mengenalkan konsep “Docile Bodies” atau tubuh yang patuh atau jinak. Secara tradisional, sekolahlah yang menjadi institusi pendisiplinan itu. Sekolah mendikte bagaimana tubuh siswa harus diatur: seragam harus longgar, rok di bawah lutut, rambut dipotong rapi, dan posisi duduk harus tegak. Sekolah memaksa tubuh remaja menjadi seragam demi efisiensi kepatuhan akademik.

BRI Prioritas Dorong Nasabah Susun Strategi Kelola Kekayaan

Namun hari ini, dinding sekolah telah jebol oleh layar ponsel. Ketika seorang siswi baru meliuk-liukkan badannya di depan kamera dengan pakaian sekolah yang sengaja diperketat, dia merasa sedang melakukan pembangkangan atau resistensi terhadap aturan sekolah yang kaku. Dia merasa menjadi subjek yang “merdeka” atas tubuhnya sendiri.

“Mereka merasa sedang melawan kekuasaan sekolah, padahal mereka hanya sedang berpindah ke dalam pelukan ‘sipir penjara digital’ yang jauh lebih kejam.”

Di sinilah letak jebakannya. Remaja-remaja ini sebenarnya tidak sedang merdeka. Mereka sedang menyerahkan tubuh mereka secara sukarela ke dalam sistem kontrol baru yang didasarkan pada konsep arsitektur pengawasan Foucault bernama Panopticon Digital. Media sosial bertindak bagaikan menara pengawas tak terlihat. Jutaan netizen adalah pengawasnya, dan angka likes, views, serta kolom komentar adalah alat hukumannya.

Kekuasaan digital ini bekerja bukan dengan paksaan fisik, melainkan dengan memanipulasi hasrat. Seperti yang dibahas Foucault dalam The History of Sexuality (1978), kekuasaan modern bekerja lewat produksi wacana dan normalisasi. Para remaja mendisiplinkan tubuh mereka sendiri berdiet ketat, mencari sudut kamera terbaik, berpakaian sensual bukan karena instruksi guru, melainkan demi memenuhi wacana (discourse) standar kecantikan global yang didikte oleh industri kosmetik dan sistem pasar digital.

Kontras visual yang mereka gunakan pun menjadi komoditas yang mahal. Mengapa harus memakai seragam sekolah saat berpose sensual? Karena seragam sekolah melambangkan kepolosan, kemurnian, dan batasan moral institusi. Ketika simbol kepolosan tersebut ditabrakkan dengan penonjolan sensualitas seksual, muncullah apa yang disebut shock value.

Bandara Ngurah Rai Tambah Rute Beijing

Efek kejut inilah yang paling disukai oleh algoritma digital. Konten dengan kontras ekstrem seperti ini memicu debat di kolom komentar, mendatangkan ribuan share, dan melejitkan angka keterikatan (engagement). Pada akhir cerita, tubuh-tubuh remaja ini terjebak dalam apa yang disebut sosiolog Bryan Turner dan Anthony Synnott sebagai komodifikasi fisik: tubuh mereka dieksploitasi oleh sistem kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism) demi menghasilkan keuntungan bagi platform korporasi.

Maka dari itu, melihat fenomena ini hanya dari kacamata “salah-benar” atau “sopan-tidak sopan” adalah sebuah kedangkalan berfikir. Remaja kita tidak butuh sekadar diceramahi soal moralitas agama, melainkan butuh disadarkan bahwa agensi dan kebebasan yang mereka agungkan di media sosial adalah ilusi.

Selama tubuh mereka masih dinilai berdasarkan standar angka di layar ponsel, dan selama mereka masih meminjam simbol seragam sekolah demi memuaskan tatapan (gaze) publik maya, mereka tidak sedang merdeka. Tubuh mereka masih dijinakkan, dikontrol, dan diperjualbelikan oleh sistem digital yang tak pernah mereka kuasai.

Tulisan oleh redaksi.

Remaja 17 Tahun Terseret Arus di Pantai Pererenan, Pencarian Dilanjutkan Senin

Bagikan