Bangli – Siapa sangka limbah kulit kopi yang selama ini terbuang percuma justru mengantarkan seorang mahasiswi asal Kintamani ke panggung nasional. Ni Made Bintang Handayani, 21 tahun mahasiswa PGSD Fakultas Dharma Acarya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, sukses mengubah cascara kopi Arabika Kintamani menjadi inovasi pangan bernilai ekonomi tinggi lewat brand Kintamani Cascara (KINTARA).
Konsistensinya sejak 2023 berbuah manis. Bintang dinobatkan sebagai Juara I Nasional Pemuda Pelopor Bidang Kewirausahaan Tahun 2025, penghargaan bergengsi yang diserahkan langsung di Boyolali, Jawa Tengah, pada 15 Januari 2026 dalam kolaborasi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Kementerian Desa.

Ni Made Bintang Handayani saat menerima penghargaan Juara I Nasional Pemuda Pelopor Bidang Kewirausahaan Tahun 2025. (ist)
Berangkat dari keresahan melihat melimpahnya limbah kulit kopi di Banjar Luahan, Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Bintang melakukan riset mendalam. Ia menemukan cascara kaya antioksidan dan serat alami. Dari temuan itu lahir empat produk unggulan, yakni Fudgy Brownies Cascara, Brownies Cascara Crispy, Teh Cascara, hingga Keripik Cascara Suna Cekuh dengan sentuhan rasa khas Bali.
Tak sekadar bisnis, KINTARA menjelma menjadi gerakan pemberdayaan berbasis home industry. Kelompok tani, perempuan, dan pemuda desa dilibatkan aktif, sehingga limbah berkurang, lapangan kerja tercipta, dan ekonomi lokal ikut bergerak. Legalitas pun lengkap, mulai dari NIB, PIRT, hingga Sertifikat Halal.
Rektor UHN Sugriwa, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, mengapresiasi capaian tersebut. Ia menyebut Bintang sebagai “mutiara terpendam” yang berhasil bersinar di tingkat nasional.
“Ini menjadi kebanggaan besar bagi UHN Sugriwa. Mahasiswa kami mampu berinovasi dan meraih prestasi nasional,” ungkapnya, Kamis (5/2).
Rektor juga mendorong mahasiswa lain untuk berani berinovasi dan menorehkan prestasi di berbagai bidang. Sejalan dengan itu, Bintang mengajak generasi muda untuk tak ragu menjadi agen perubahan.
“Perubahan bisa dimulai dari desa dan dari hal kecil. Jangan jadi bagian dari masalah, tapi jadilah bagian dari solusi,” tegasnya. (Ar/CB.1)

