Badung – Tingginya kebutuhan investasi awal untuk pembuatan properti baru menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha dekorasi pernikahan di Bali. Pola bisnis yang mewajibkan vendor menyiapkan bahan, tenaga kerja, serta variasi ornamen lebih dahulu membuat ketersediaan modal menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan usaha.
Tantangan tersebut dirasakan Nyoman Tangga Nalika, pemilik Dehana Decoration. Usaha yang dirintis sejak 2017 ini menawarkan paket dekorasi mulai dari Rp10 juta hingga ratusan juta rupiah. Tangga mengungkapkan bahwa pembuatan properti baru membutuhkan investasi yang lumayan besar di awal dan baru berpotensi balik modal setelah digunakan dalam beberapa kali pesanan.
“Kalau pembuatan barang baru, kita bisa minus dulu. Kita harus jalanin sekitar lima kali dulu baru bisa balik modal,” ujar Tangga.
Untuk memperkuat kapasitas produksi dan menambah aset aset produktifnya, Dehana Decoration memanfaatkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp25 juta sebagai tambahan modal kerja. Ke depan, ia menargetkan tambahan pembiayaan di atas Rp50 juta guna memperbanyak variasi stok properti agar mampu menggaet pesanan berskala lebih besar.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya menegaskan komitmen BRI untuk terus mendampingi dan memfasilitasi akses permodalan bagi sektor UMKM pendukung industri pariwisata dan acara (event) di Bali.
“BRI terus berkomitmen hadir di tengah masyarakat melalui akses pembiayaan yang mendukung pengembangan usaha. Kami berharap dukungan permodalan ini membantu pelaku usaha terus bertumbuh, meningkatkan produktivitas, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal,” kata Hery. (*Ar/CB.1)

