Denpasar – Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ditegaskan bukan sekadar tren atau gimmick sesaat. Komisaris PT Telkom Indonesia, Rizal Mallarangeng, menyebut AI sebagai general purpose technology yang dampaknya sangat revolusioner, setara dengan penemuan mesin uap pada masa revolusi industri.
Hal tersebut disampaikan Rizal saat menghadiri kegiatan literasi digital di Denpasar, Jumat (6/2). Menurutnya, seperti halnya mesin uap yang dahulu mengubah cara manusia bekerja di sektor transportasi, industri, hingga pertanian, AI kini memiliki dampak sistemik di hampir seluruh aspek kehidupan.
“Kalau dulu mesin uap bisa dipakai untuk kereta api, pabrik sampai traktor, sekarang AI juga bisa digunakan di produksi, konsumsi, pendidikan, hingga komunikasi. Jadi ini bukan gimmick,” tegas Rizal.
Ia menekankan pentingnya pengenalan dan pemanfaatan AI sejak usia dini, bahkan mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD). Dengan pengenalan sejak awal, generasi muda diharapkan mampu menguasai teknologi ini secara bertahap hingga tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi.
“Teknologi ini harus dikenalkan dan dimanfaatkan sejak dini. Kalau tidak, kasihan anak-anak kita, mereka bisa ketinggalan,” ujarnya.
Selain penguasaan teknologi, Rizal juga menyoroti pentingnya literasi digital sebagai fondasi utama. Menurutnya, dunia pendidikan tidak bisa lagi menghindari pemanfaatan teknologi AI, karena perkembangan teknologi global bergerak sangat cepat.
“Ya harus menguasai aplikasi teknologi baru ini. Kalau tidak, kita hanya jadi penonton,” imbuhnya.
Terkait kesiapan infrastruktur, Rizal menyebut akses digital yang merata menjadi syarat mutlak agar pemanfaatan AI dapat berjalan optimal. Pemerintah bersama Telkom Indonesia, kata dia, terus memperluas jaringan digital agar masyarakat di berbagai daerah dapat mengakses teknologi AI tanpa hambatan konektivitas.
Menariknya, Rizal menegaskan bahwa pemanfaatan AI tidak selalu harus menunggu jaringan 5G. Menurutnya, jaringan 4G yang saat ini sudah tersebar luas sebenarnya sudah cukup untuk menjalankan berbagai aplikasi berbasis AI.
“Sebenarnya 4G saja cukup untuk AI. 5G itu lebih untuk robotik dan kebutuhan skala berbeda,” jelasnya.
Ia juga menyebut, di berbagai negara yang sudah menggunakan 5G bahkan 6G, kebutuhan AI tidak selalu bergantung pada jaringan super cepat tersebut. Pembuatan konten seperti video, musik, hingga aplikasi AI lainnya masih dapat berjalan optimal dengan koneksi 4G.
Mengenai kondisi jaringan di Bali, Rizal menilai penetrasi 4G di kawasan perkotaan sudah cukup baik. Meski masih ada beberapa titik yang terkendala sinyal dan masih menggunakan jaringan 2G, secara umum Bali dinilai siap dalam pemanfaatan teknologi AI.
“Sebagian besar kota besar sudah 4G. Jadi dengan 4G saja, aplikasi AI sudah cukup,” pungkasnya. (An/CB.3)



