Tabanan – Kebun Raya Bali tak hanya dikenal sebagai pusat konservasi tumbuhan, namun juga menyimpan kekayaan fauna yang jarang diketahui publik. Salah satunya adalah keberadaan kunang-kunang yang aktif bermunculan saat senja hingga malam hari.
Untuk mengenalkan habitat alami serangga bercahaya ini, Kebun Raya Bali bersama Nusantara Wilderness menggelar kegiatan eksplorasi biodiversitas flora dan fauna. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peran kunang-kunang sebagai indikator lingkungan yang sehat dan bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
East Deputy of Horticulture Kebun Raya Wilayah Timur, Hadhiyyah N. Cahyono, menyampaikan bahwa fungsi Kebun Raya tidak hanya sebagai pusat konservasi tumbuhan, tetapi juga sebagai habitat berbagai jenis satwa.
“Jika lingkungannya terjaga, maka satwa seperti kunang-kunang dan herpetofauna akan tetap memiliki tempat berlindung,” ujarnya.
Hal senada disampaikan perwakilan Nusantara Wilderness, Bella Evanglista. Ia menekankan bahwa eksplorasi ini mengajak peserta untuk memahami ekosistem secara menyeluruh.
“Kegiatan ini bukan sekadar melihat satwa, tetapi memahami bagaimana lingkungan bekerja menjaga keseimbangan alam,” jelasnya.
Kegiatan yang diikuti 40 peserta dari dalam dan luar negeri ini berlangsung di kawasan Kebun Raya Bali atau Kebun Raya Bedugul, Tabanan, mulai Pukul 16.00 hingga 21.00 WITA. Waktu tersebut termasuk zona krepuskular, yakni masa peralihan siang ke malam saat kunang-kunang paling aktif beraktivitas.
Eksplorasi dilakukan dengan menyusuri sejumlah kawasan, di antaranya Lake View, Giant Tree, Hutan Tropis, hingga Taman Tematik Panca Yadnya. Sepanjang jalur tersebut, peserta mengamati beragam fauna malam seperti kunang-kunang jenis Lamprigera spp. dan Abscondita spp., amfibi, reptil, arachnida, serta aves. Berbagai jenis vegetasi khas seperti Ficus spp., Bischofia javanica, Cyathea spp., dan Liquidambar excelsa juga turut diamati.
Direktur Pengelola Kebun Raya, Marga Anggrianto, berharap kegiatan eksplorasi biodiversitas ini dapat terus dikembangkan ke depan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi agenda berkelanjutan yang melibatkan lebih banyak kolaborator, komunitas, dan masyarakat, sehingga upaya konservasi tidak hanya berhenti pada perlindungan kawasan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Menariknya, di area Panca Yadnya dan Lake View, peserta menemukan aktivitas kunang-kunang dalam jumlah melimpah yang didominasi oleh genus Lamprigera dan Abscondita. Kondisi mikroklimat yang stabil, ditandai dengan kelembaban udara tinggi, suhu sejuk, sirkulasi udara yang baik, serta rendahnya intensitas cahaya buatan, menciptakan habitat ideal bagi kunang-kunang.
Keberadaan dan aktivitas kunang-kunang tersebut menjadi bukti bahwa kawasan Kebun Raya Bali masih memiliki kualitas lingkungan yang baik, sekaligus berfungsi sebagai indikator bioekologis dari ekosistem yang relatif sehat. (An/CB.3)



